Selasa, 31 Maret 2015

A.    Pendahuluan
Manusia memilki memori yang kemampuan dan kapasitas sangat besar, sehingga tak terhitungkan besarnya. Akan tetapi tidak semua memanfaatkan kapasitas tersebut seoptimal mungkin dan lebih banyak lagi yang memanfaatkan memori ini sekedarnya saja, sehingga banyak ruang-ruang dalam memori seseorang yang tidak terisi bahkan tidak diisi serta tidak diperlakukan dengan lebih baik karena berbagai faktor. Ingatan merupakan alih bahasa dari memori. Maka dari itu disamping ada yang menggunakan ingatan ada pula yang menggunakan istilah memori sesuai dengan ucapan dari memori. Pada umumnya para ahli memandang ingatan sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lalu. Proses manusia memunculkan kembali tiap kejadian pengalaman pada masa lalunya, membutuhkan kemampuan mengingat kembali yang baik. Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia,maka ini menunjukan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya (M. Alisuf Sabri, 1993). Menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang pernah dialami, sama halnya dengan memunculkan kembali sesuatu yang pernah terjadi dan tersimpan dalam ingatan.
Memori atau ingatan bukan merupakan suatu objek seperti mata, tangan dan organ tubuh lainya. De Porter & Hernacki (Wirawan Sarwono Sarlito, 1976)  menjelaskan bahwa memori atau ingatan adalah suatu kemampuan untuk mengingat apa yang telah diketahui. Seseorang dapat mengingat sesuatu pengalaman yang telah terjadi atau pengetahuan yang telah dipelajari pada masa lalu. Kegiatan seseorang untuk memunculkan kembali atau mengingat kembali pengetahuan yang dipelajarinya pada masa lalu dalam ilmu psikologi di sebut recall memory.
Untuk mengetahui bagaimana proses mengingat kembali itu terjadi maka perlu diketahui bagaimana prosesnya manusia bisa menyimpan informasi dalam ingatanya. Memori atau ingatan merupakan fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami lagi pengalaman masa lalu. Proses ingatan ini diukur dengan pengingatan (recall), reproduksi, pengenalan (recognition) dan belajar-ulang (relearning) (Akyas Azhari, 2004).


B.     Pengertian Memori Menurut Perspektif Psikologi
Menurut Bruno (1987), memori ialah proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan. Bagaimana hubungannya dengan belajar? Anda dapat mengetahui dari contoh berikut ini.
Apabila siswa anda menerima pelajaran tentang Muhammad yang diutus Allah sebagai Nabi akhir zaman, mula-mula informasi tentang Nabi terakhir ini akan masuk ke dalam short term memory atau working memory (memori jangka pendek) melalui indera mata atau telinga siswa tersebut. Kemudian, informasi mengenai Rasul Allah itu diberi kode misalnya dalam bentuk simbol-simbol huruf M-U-H-A-M-M-A-D. Setelah selesai proses pengkodean (enconding), informasi itu masuk dan tersimpan di dalam long term memory atau permanent memory yakni memori jangka panjang atau permanen.
Memori merupakan fenomena paling luar biasa di dunia ini.Otak dimodifikasi dan diatur oleh pengalaman-pengalaman kita.Interaksi kita dengan dunia fisik. Pengalaman panca indera, persepsi, dan tindakan kita, mengubah kita terus-menerus dan menentukan apa yang nantinya bisa untuk merasa, mengingat, mengerti, dan menjadi.[1]
Setiap orang mungkin mempunyai miliaran potong informasi yang di simpan dalam memori jangka panjang, “penyimpanan memori” sebagai hasil dari pembelajaran dan tidak akan disadari kecuali anda memanggilnya. Ini juga mencakup semu : perbendaharaan kata dan pengetahuan bahasa, semua informasi yang telah dipelajari, pengalaman hidup pribadi, dan banyak lagi segala kemahiran yang telah dipelajari, dari mulai berjalan dan berbicara hingga prestasi musik dan atletik, banyak emosi yang dirasakan dan pada kenyataannya pengalaman yang berkelanjutan, serta sensasi yang terus-menerus, perasaan, dan pemahaman dunia yang disebut kesadaran. Tentu, tanpa memori tidak akan ada pikiran. 
C.    Perkembangan Awal Memori
Perkembangan memori pada otak manusia dari masa pembuahan hingga dewasa merupakan kisah yang luar biasa.
Dari pembuahan hingga kelahiran, pertumbuhan otak manusia menambah sel saraf baru pada kecepatan yang luar biasa, 250.000 setiap menit!
Sebenarnya, otak bayi yang baru lahir memiliki neuron lebih banyak dari pada usia selanjutnya. Beberapa neuron mati ketika otak dibentuk dan “dipahat” oleh pengalaman. Kita terbiasa untuk berfikir bahwa hanya itulah jumlah total neuron yang dimiliki otak pada masa kelahiran. Beberapa akan mati, tetapi tidak ada neuron baru yang dibentuk.
D.    Pendekatan Kognitif dalam Memori
Meskipun pendekatan terhadap memori sejauh ini tidak berhubungan dengan aliran-aliran teori pembelajaran terkemuka, hal itu tetap mirip dengan pendekatan koneksionis. Respon-respon terhadap stimuli dipelajari dan berkopetisi satu dengan lainnya; mereka juga mengalami ekstingsi dan kepulihan spontan. Sekalipun demikian, ada pendekatan berbeda yang semakin popular akhir-akhir ini. Bukannya berfokus pada respon-respon, pendekatan ini berfokus pada informasi yang menyebabkan respon-respon itu menjadi muncul. Walaupun pada dasarnya berbeda dari teori-teori kognitif yang telah kita bahas, pendekatan ini tetap bersifat kognitif. Pendekatan ini mengakibatkan munculnya perubahan substansial dalam hal pengkajian memori oleh para teoretisi.[2]
Dalam pandangan koneksionis mengenai memori, apa yang diingat atau dilupakan adalah respon, dan sebab utama mengapa respon-respon tertentu dilupakan adalah karena adanya kompetisi dari respon lain terhadap stimuli yang sama. Sementara, muncul sudut pandang lain yang popular hamper sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an. Sudut pandang ini berasumsi bahwa unit-unit adalah item-item informasi dan bahwa memori adalah persoalan menyimpan dan meraih kembali item-item tersebut. Dalam pandangan kalangan koneksionis, analogi yang digunakan adalah panel-panel sambungan telepon atau maze (lorong berliku) yang kita tempuh untuk mencari jalan. Dalam pandangan baru ini, analogi yang digunakan adalah perpustakaan tempat informasi di simpan. Item-item informasi ini merupakan unit-unit kognitif, meski semua itu tetap bisa diukur dengan memunculkan sebuah respon. Pendekatan ini mungkin tidak sekognitif peta-peta kognitif Tolman, namun paling tidak segolongan dengan pengharapan (expectancies) S-S* dan R-S* Bolles.
E.     Tiga Penyimpanan Memori
Barangkali versi paling terkenal dari pendekatan ini adalah yang dikemukakan oleh Richard C. Atkinson (1. 1929) dan Richard M. Shiffrin (1. 1942), keduanya saat itu di Universitas Stanford (Atkinson & Shiffrin 1968, 1971; Shiffrin & Atkinson 1969). Mereka berpendapat bahwa memori terdiri atas tiga tempat atau wadah penyimpanan (stores), yakni lokasi-lokasi tempat informasi bisa disimpan untuk periode waktu tertentu. Kita tidak harus memahami konsep lokasi ini secara harfiah.Jika informasi diterima melalui indera dan kemudian bisa memunculkan perilaku pada waktu mendatang, informasi itu pasti telah tersimpan dalam bentuk tertentu selama berlangsungnya interval. Ada tiga bentuk penyimpanan, menurut ketentuan berapa lama berlangsungnya penyimpanan, bagaimana informasi dipanggil kembali, dan mengapa informasi tidak bisa disimpan lagi. Perbedaan-perbedaan ini tentu membuat kita membayangkan ada tiga tempat penyimpanan berbeda yang berlokasi ditiga tempat yang berbeda, namun kita tidak perlu membayangkannya seperti itu. Ketiga tempat penyimpanan itu adalah variable-variabel perantara, dan penerimaan kita akan bergantung pada apakah kita menggunakannya untuk memprediksi hokum memori, bukan bergantung pada dimana letak semua itu atau pada apakah semua itu memang memiliki lokasi spesifik tertentu.
Yang pertama dari ketiga wadah penyimpanan ini adalah register sensori (sensory register).Ini mengandung pengertian bahwa semua informasi yang tiba melalui indera diregistrasi atau dicatat dulu; itulah sebabnya dinamakan demikian. Akan keliru bila kita mengatakannya dalam bentuk tunggal, karena dalam segi tertentu register sensori jumlahnya ada sebanyak jumlah indera. Semua informasi yang kita terima, entah itu melalui penglihatan, pendengaran, atau dengan cara apapun, langsung masuk kedalam register sensori. Informasi itu tinggal disana selama kurang dari satu detik (untuk penglihatan) atau sedikit lebih lama (untuk pendengaran atau indera lainnya) dan kemudian hilang.Selain itu, informasi itu tersimpan dalam bentuk persis seperti ketika diterima, seperti pantulan bayangan di retina mata atau suara di telinga sebelah dalam.
Kita bisa mendemonstrasikan penyimpanan informasi dalam bentuk asli yang amat singkat ini dengan memperlihatkan kepada seseorang sebuah tampilan yang terdiri atas 12 huruf selama seperduapuluh detik dan kemudian, begitu tampilan itu dipadamkan, memberikan tanda agar ia menyebutkan barisan huruf yang diatas, tengah, dan bawah. Rata-rata tiga dari empat orang menyebutkan dengan benar, dan karena mereka tidak tahu barisan mana yang harus disebutkan ketika tampilannya padam, kita bisa mengasumsikan bahwa bayangan dari tampilan tersebut berlangsung cukup lama sehingga mereka bisa ‘membaca’ huruf-huruf dalam tampilan itu (sperling 1960). (Bila mereka diminta membaca semua 12 huruf itu, mereka bisa menyebutkan dengan benar hanya empat atau lima huruf di antaranya, menandakan bahwa bayangan tersebut berlangsung amat singkat). Dengan demikian register sensori mirip dengan sebuah gambar ditelevisi: gambar itu memuat banyak informasi namun berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
Register sensori menyimpan informasi dalam waktu yang amat singkat sehingga tidak menarik bagi para pengkaji pembelajaran. Tempat penyimpanan kedua menyimpan informasi dalam waktu yang lebih lama, dan tidak selalu dalam bentuk aslinya. Ini disebut penyimpanan jangka pendek (short term store), atau memori jangka pendek (short term memory) atau memori kerja (working memory). Contoh paling umum dari informasi yang tersimpan dalam wadah jangka pendek adalah nomor telepon yang baru kita temukan dibuku telepon lalu sengaja kita ingat sebentar untuk kita telepon.Informasi seperti itu tidak diingat secara permanen; dalam kenyataannya, informasi itu seringkali terlupakan dalam hitungan detik. Tetapi, dibandingkan dengan register sensori, hal itu tersimpan cukup lama sehingga bisa digunakan secara cukup kompleks. Bila contoh menelpon dengan nomor-nomor tertentu terdengar kurang kompleks, bayangkanlah operasi yang disimpan seseorang ketika ia sedang mengerjakan soal aritmetika. Misalnya, anda mungkin mengingat sebuah angka cukup lama agar bisa mengalikannya dengan angka lain, namun ketika telah mendapatkan hasil perkaliannya, anda mulai melupakannya.Contoh ini membantu menunjukkan mengapa penyimpanan jangka pendek juga disebut sebagai memori kerja.
Hanya sejumlah item tertentu saja yang bisa disimpan dalam waktu tertentu dalam penyimpanan jangka-pendek atau memori kerja ini. Begitu item-item tambahan didatangkan, sebagian dari yang sudah ada disana harus pergi. Ini berarti bahwa item-item bisa disimpan dalam memori jangka-pendek tanpa batas sepanjang seseorang berkonsentrasi pada item-item itu. Jika karena sebab tertentu anda harus membuka-buka nomor telepon di satu tempat kemudian perlu waktu untuk bisa sampai ke lokasi pesawat telepon tanpa mencatat nomor itu, anda masih tetap bisa mengingatnya. Namun demikian, jika untuk sampai ke pesawat telepon anda dituntut untuk mengingat informasi baru yang lain atau membuat hitungan-hitungan tertentu, penggunaan lain atas memori kerja ini bisa mengambil alih ruang yang terbatas dan membuat anda lupa dengan nomor yang hendak anda pencet. Interferensi antara materi lama dan baru ini mungkin mirip sekali dengan interferensi retroaktif, namun interpretasinya agak berbeda. Di sini interferensinya bukan antara dua respon terhadap stimulus yang sama, yang salah satunya akan dijaga atau diretensi untuk periode yang lama, melainkan antara dua item, salah satunya akan diretensi dalam memori kerja ketika tidak ada ruang yang memadai untuk keduanya.
Kapasitas penyimpanan jangka pendek adalah sekitar tujuh item. Kapasitas ini tetap sama terlepas dari jenis item yang akan diingat, sepanjang item-item itu cukup familiar untuk bisa berfungsi sebagai unit-unit. Jadi, rangkaian huruf-huruf c-a-t, karena merupakan kata yang familiar, akan menjadi satu unit, dan kita bisa menyimpan sekitar tujuh buah unit demikian dalam memori kerja pada waktu yang sama. Sekalipun begitu, rangkaian huruf tadi yang disusun menjadi t-c-a mungkin hanya menjadi rangkaian tanpa arti dari tiga huruf dan dengan demikian tampil sebagai tiga buah unit dalam memori kerja. Kapasitas penyimpanan jangka pendek tidak selalu persis tujuh unit, namun jarang kurang dari lima atau lebih dari Sembilan. Kapasitas ini, yang konsisten pada berbagai individu dan berbagai jenis item, memanifestasikan apa yang oleh George Miller (1956) (bukan Neal Miller) disebut sebagai ‘angka tujuh yang ajaib, ditambah atau dikurangi dua’.
Meski pengulangan (rehearsal) merupakan cara yang bagus untuk mempertahankan agar suatu item tetap berada dalam memori kerja, hal itu tidak selalu diperlukan. Item-item tersingkir dari wadah penyimpanan jangka-pendek bukan hanya karena hal itu tidak diulangi; mereka tersingkir karena digantikan oleh item-item lain. Seandainya anda membaca serangkaian pendek huruf-huruf dan beberapa detik sesudahnya diuji untuk mengetahui sejauh mana anda mengingatnya. Jika anda menghabiskan waktu interval beberapa detik itu untuk mengerjakan aritmetika dalam pikiran anda, anda akan cenderung melupakan huruf-huruf itu, karena aritmetika menuntut penggunaan memori kerja untuk angka-angka, yang mendesak keluar huruf-huruf.  Sebaliknya, jika anda menghabiskan waktu untuk mengamati secara teliti sebuah lampu yang menyala redup, anda akan mengingat huruf-huruf itu dengan lebih baik, meskipun anda tidak sempat mengulanginya. Tidak ada hal lain yang membuat huruf-huruf itu terdesak keluar dari wadah penyimpanan jangka pendek, sehingga semua itu tetap teringat.
Akhirnya, penyimpanan jangka panjang (long term store) terkait erat dengan apa yang telah kita bahas di dua bagian awal sebelumnya, meski secara mendasar tetap berbeda. Sementara pada bagian sebelumnya kita bertanya bagaimana cara kita mengingat respon-respon dan apa yang menentukan retensinya, sekarang kita bertanya bagaimana cara item-item itu masuk kedalam wadah penyimpanan jangka-panjang dan bagaimana semua itu nantinya bisa dipanggil kembali dari wadah itu. Meski tidak bisa dipastikan, asumsinya adalah bahwa penyimpanan jangka-panjang memiliki kapasitas tidak terbatas dan tidak ada hal yang hilang darinya.Bila kita melupakan sesuatu yang pernah ada didalam wadah jangka panjang, sebabnya adalah karena kita tidak bisa menemukannya lagi, namun hal itu masih ada disana, tersedia untuk ditemukan jika kita tidak memilih strategi pencarian yang tepat untuk memanggilnya kembali.
Meskipun penyimpanan jangka-panjang terkait dengan apa yang dianalisis Underwood, hakikat analisisnya agak berbeda. Kita bisa membayangkan penyimpanan jangka-panjang sebagai semacam sistem pemberkasan (filing system) dalam sebuah perpustakaan, dimana sejumlah besar informasi disimpan secara permanen untuk digunakan bila diperlukan. Masing-masing sistem informasi diberkas menurut label pokoknya dan bisa ditemukan kembali kapan saja ada kebutuhan atas nomor pokok ini. Label pokok ini bisa dibuat menurut sebagai ketentuan: menurut topic (misalnya, segala hal yang ku alami pada musim dingin tahun 1987-1988), atau menurut tempat (misalnya, lokasi gedung-gedung public utama di Philadelphia), atau sejumlah kemungkinan lainnya. Sebagian sistem informasi memiliki banyak label tersebut dan seringkali dipanggil kembali dalam penyimpanan jangka panjang, sementara yang lainnya memiliki label yang sedikit menjelang dipanggil kembali. Karenanya suatu sistem yang nampaknya terlupakan sama sekali masih tetap bisa ditemukan jika kita menggunakan label pencarian yang benar. Ketika sebuah sistem dipanggil kembali dari penyimpanan jangka panjang, sistem tersebut masuk kedalam penyimpanan jangka-pendek, yang sekali lagi menjadi sebab mengapa yang tersebut terakhir ini juga disebut sebagai memori kerja.Terkait dengan sistem lainnya, sistem panggilan itu tinggal dalam penyimpanan jangka-pendek selama periode tertentu dan kemudian terdesak oleh sistem lainnya. Akan tetapi, ketika hal itu terjadi, sistem panggilan tidak hilang, melainkan kembali ke (atau tinggal di) tempat penyimpanan jangka-panjang. Atkinson dan Shiffrin mengajukan ibarat sebuah mesin fotocopy: ketika sebuah sistem berada dalam tempat penyimpanan jangka-panjang, bila diperlukan maka fotocopyan sistem itu ditempatkan dalam tempat penyimpanan jangka pendek, digunakan disini, dan kemudian dibuang ketika ada item baru yang akan menempatinya, sementara item aslinya tetap tidak berubah dalam tempat penyimpanan jangka-panjang.
Hubungan antara penyimpanan jangka-panjang dan jangka-pendek bisa dilihat dari apa yang terjadi ketika kita mendengar rangkaian panjang kata-kata atau item-item lain dan kemudian mencoba mengingat semuanya secara urut-uji retensi ini dikenal dengan istilah mengingat bebas (free recall). Kita umumnya lebih mengingat item-item yang ada dibagian awal dan dibagian akhir, bukan yang ditengah. Adanya retensi yang lebih baik pada bagian awal ini disebut efek primasi (primacy effect), sementara retensi yang lebih baik pada bagian akhir disebut efek resensi (recency effect).Mengepa kedua hal itu terjadi? Kita bisa memperoleh jawabannya melalui eksperimen yang agak berbeda: setelah daftar tersebut ditampilkan, tunggu dulu selama beberapa detik sebelum mencoba mengingatnya, sambil menyibukkan diri dengan tugas lain sehingga tidak ada kesempatan untuk mengulangi daftarnya lagi. Jika hal ini kita lakukan, efek resensinya lenyap, namun efek primasinya masih bisa didapati. Itulah sebabnya mengapa item-item yang ada di akhir daftar bisa teringat lebih baik bila ujiannya langsung dilaksanakan karena item-item tersebut masih tinggal dalam penyimpanan jangka-pendek. Bila ujiannya ditinggal, item-item itu telah hilang dari penyimpanan jangka-pendek, sehingga ingatan kita tentang bagian akhir dari daftar tersebut tidak lebih baik dari bagian tengahnya.
Bagaimanapun, efek primasi jelas terjadi karena adanya faktor lain juga, karena lebih banyak item dari bagian awal daftar yang masuk kedalam penyimpanan jangka-panjang, sehingga mereka tidak hilang selama berlangsung interval antara pembacaan daftar dan ujian. Barangkali penyebabnya adalah karena mereka dikaji lebih teliti dari pada item-item terakhir, atau karena mereka sempat mengalami pengulangan selama daftar ditampilkan. Apapun sebabnya, bahwa efek-efek primasi dan resensi terjadi karena factor yang berbeda. Efek primasi mencerminkan jumlah item yang masuk ke dalam penyimpanan jangka-panjang, sementara efek resensi disebabkan oleh kesegaran atau kebaruan (recency) nya, dimana efek tersebut berlangsung hanya bila item-item yang ada diakhir daftar tinggal didalam penyimpanan jangka-pendek.
Jika memang tidak ada hal yang hilang dari penyimpanan jangka-panjang, mengapa biasanya kita kesulitan untuk menemukan kembali item-item yang telah lama tinggal dalam penyimpanan jangka-panjang? Jawabannya adalah karena item-item yang lebih lama akan memiliki lebih banyak lagi item-item serupa sehingga bisa terkacaukan dengan mereka; dan lebih sulit menemukan item mana yang benar diantara item yang keliru. Sekali lagi, ini terdengar amat mirip dengan interferensi proaktif dan retroaktif. Kendatipun demikian, cara berfikir mengenai proses tersebut tetap agak berbeda. Interferensi tidak terkait dengan masalah kompetisi antar respon yang menghasilkan ekstingsi atau kepulihan spontan, melainkan lebih merupakan masalah kekacauan terorganisir di mana kita akan semakin sulit menemukan apa yang kita inginkan keika ada lebih banyak item yang harus dicari. Faktor terpentingnya bukan umur memori itu sendiri; yang menjadi soal adalah apakah cara pelabelannya sesuai dengan sarana pencarian yang tengah kita gunakan. Dengan demikian pendekatan ini tidak menekankan apa yang terjadi pada item-item setelah dipelajari melainkan lebih menekankan cara yang kita gunakan untuk menelusurinya. Dengan demikian memori yang bagus bergantung pada hubungan antara cara pelabelan item-item ketika mereka masuk kedalam penyimpanan jangka-panjang dan cara penelusuran mereka ketika tiba saatnya untuk memanggil mereka kembali.
Lalu, bagaimana caranya item-item memasuki penyimpanan jangka-panjang? Jawaban dasarnya adalah dengan pengulangan. Semakin sering sebuah item diulangi dalam penyimpanan jangka-pendek, semakin besar kemungkinan item itu berpindah kedalam penyimpanan jangka-panjang. Sekalipun begitu, yang diulangi dan yang barangkali disimpan, adalah versi tertentu dari item itu-maksudnya, item itu setelah dikodekan (encoded) dengan cara tertentu. Pengkodean (encoding) menjadi penentu utama apakah sebuah item akan tersimpan dalam bentuk tertentu yang nantinya bisa ditemukan kembali; sejumlah psikolog telah menkaji hal ini lebih dalam dari pada teori Atkinson dan Shiffrin.
F.     Jenis-jenis memori
Kita tidak menyadari pekerjaan memori pada dua tahap yang pertama. Kita hanya mengetahui memori pada tahap ketiga : pemanggilan kembali. Pemanggilan dapat diketahui dengan empat cara :
1.      Pengingatan (recall). Pengingatan adalah proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim ( kata demi kata), tanpa petunjuk yang jelas.
2.      Pengenalan (Recognition). Agak sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta, lebih mudah mengenalnya kembali.
3.      Belajar lagi (Relearninng). Menguasai kembali pelajaran yang sudah pernah kita peroleh termasuk pekerjaan memori.
4.      Redintegrasi (Redintegration). Redintegrasi adalah merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil.
G.    Macam-Macam Memori
Memori ada 2 macam:
1.      Memori jangka pendek
Memori, jangka pendek, yakni memori atau ingatan yang berada dalam jangka waktu tertentu.Penyimpanan pada ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas yang terbatas, sehingga dapat dengan mudah tergantikan oleh informasi yang lebih baru. Kapasitas penyimpanannya kurang lebih sebanyak antara 7 s.d. 12 butir atau chunk (kelompok unit) informasi. Apabila batas ini sudah penuh, maka informasi baru yang datang kemudian akan mengalihkan butir yang sudah ada. Butir-butir yang belum dialihkan dapat diingat kembali melalui suatu proses yang menguji setiap            butir     secara  bergantian.
2.      Memori jangka panjang
Memori jangka panjang, yaitu memori yang berada dalam jangka waktu yang lebih lama. Kelemahan ingatan sering terjadi pada ingatan jangka panjang ini dan biasanya terjadi karena kegagalan pengingatan kembali. Sedangkan proses ingatan jangka panjang dimulai ketika chungking atau pengelompokan informasi menjadi unit-unit, lalu informasi itu dikonding ulang (recode) menjadi unit-unit yang besar dan bermakna sehingga informasi itu disimpan dalam ingatan jangka pendek untuk kemudian diolah dan disusun maknanya menjadi informasi ada dalam ingatan jangka panjang. Makin banyak seseorang merinci makna sebuah informasi, maka makin     banyak ingatan yang    ia miliki.[3]
H.    Mekanisme Memori
Sudah lama orang ingin mengetahui bagaimana cara kerja memori. Secara praktis, orang ingin mencari cara-cara untuk mengefektifkan pekerjaan memori. Bukankah bila memori kita handal, kita dapat menggunakannya sebagai arsip yang murah , praktis, efisien, dan portabel (mudah dibawa)? Tetapi memori kita sering tidak berfungsi dengan baik yaitu salah satunya kita sering lupa. Untuk mengetahui pekerjaan memori, kita harus menjawab mengapa orang bisa lupa, jawabannya mengapa orang bisa ingat. Ada tiga teori yang menjelaskan tentang memori: teori aus, teori interferensi, dan teori pengolahan informasi.[4]
Teori Aus (Disuse Theory)
Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Seperti otot, memori kita baru kuat, bila dilatih terus-menerus. Sejak zaman yunani sampai sekarang, masih ada anggapan bahwa tugas guru adalah melatih ingatan muridnya. Selama sekolah orang hanya belajar mengingat. Lagi pula, tidak selalu waktu yang mengauskan memori. Sering terjadi, kita masih ingat pada peristiwa puluhan tahun yang lalu, tetapi lupa kejadian seminggu yang lewat.
Teori interferensi (Interference Theory)
Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin atau kanvas itu. Katakanlah, pada kanvas itu sudah terlukis hukum relativitas. Segara setelah itu, anda mencoba merekam hukum medan gabungan. Yang kedua akan menyebabkan terhapusnya rekaman yang pertama atau mengaburkannya. Ini disebut interferensi.
Teori Pengolahan Informasi (Information Theory)
Secara singkat, teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storge (gudang inderwi), kemudian masuk short-term memory (STM, memori jangka pendek) lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan ke dalam long-term memory (LTM, memori jangka panjang). Otak manusia dianalogikan dengan komputer.
I.       Upaya meningkatkan kemampuan ingatan
1.      Retrieval (pengulangan). Informasi yang sering di ulang-ulang akan semakin diingat. Untuk salah satu strategi meningkatkan kemampuan memori adalah mengulang-ulang kembali. Ini selaran dengan teori pembiasan.
2.      Informasi yang akan diigat harus mempunyai hubungan dengan hal lain. Konteks (peristiwa, tempat, nama, perasaan tertentu) memegang peranan penting.
3.      Mengorganisasi informasi sedemikian rupa sehingga dapat diingatkan kembali (jembatan kedelai -> andal = analisis dampak lingkungan.[5]
J.      Hubungan Memori dan Belajar
Para ahli sepakat bahwa terdapat hubungan yang erat antara memori dan belajar (Syah dalam Khadijah, N (2009)).  Seperti telah dikemukakan bahwa memori sesungguhnya adalah fungsi mental yang bekerja menangkap informasi dari stimulus, menyimpannya, dan mengungkapkannya kembali bila diperlukan. Sedang proses belajar yang kita ketahui adalah sebuah proses yang melibatkan pengolahan dan penyimpanan informasi, dan hasil belajar bias diketahui melalui proses pengungkapan kembali apa yang telah diketahui oleh siswa.  Dengan demikian, dalam belajar dibutuhkan  pemanfaatan kemampuan memori oleh siswa guna menyerap informasi yang diterima, menyimpannya, dan memunculkannya kembali saat menjawab soal ulangan atau ujian.
Hubungan antara memori dan belajar dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Ketika siswa mempelajari tentang kandungan surat Al-An’Am ayat 162-163 tentang keikhlasan dalam hidup, mula-mula informasi tersebut masuk ke dalam sistem memori terdepan siswa, yaitu sensori register. Bila siswa menaruh perhatian pada apa yang ia pelajari, maka informasi tersebut akan diteruskan ke short term memory. Selanjutnya jika informasi tersebut diulang-ulang di rumah maka informasi akan masuk ke long term memory. Suatu saat kemudian, ketika ulangan atau ujian, atau anda menanyakannya  pada siswa, maka informasi tersebut akan dimunculkan kembali. Proses menyimpan informasi dalam memori yang biasa disebut dengan menghafal ini merupakan salah satu proses yang ditempuh oleh siswa ketika belajar. Dengan demikian memori merupakan salah satu fungsi yang digunakan ketika seseorang belajar (Khadijah, N (2009).
3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  
Artinya: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S Al-Zumar: 9).[6]
Menurut Slameto (2010) dalam bukunya belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang berarti lebih mudah terjadi dan lebih lama diingat dibandingkan dengan belajar yang tampaknya tidak ada artinya. Menghafal deretan huruf-huruf yang tidak ada hubungan arti adalah sangat sulit dan lama. Untuk memudahkannya guru perlu membubuhkan suatu arti sehingga mudah di hafal. Belajar menghubungkan atau merangkaikan dua objek atau peristiwa menjadi lebih mudah apabila kedua objek atau peristiwa itu terjadi atau dijumpai dalam urutan yang berdekatan, baik ditinjau dari segi waktu maupun ruang. Dalam pelajaran, pengertian keadilan diajarkan berurutan dengan pengertian ketidakadilan; bentuk rumah khas Minangkabau ditunjukkan bersamaan dengan bentuk rumah Joglo Jawa. Siswa yang sudah berhasil mengingat objek yang satu akan mudah ingat objek lainnya. Belajar dipengaruhi oleh frekuensi perjumpaan dengan rangsangan dan tanggapan yang sama atau serupa yang dibuat. Dalam pelajaran, siswa menjadi makin baik pengusaannya jika kepada mereka diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengulang dan berlatih. Mengulang-ulang sangat cocok untuk belajar keterampilan psikomotor, seperti bermain piano, mengetik, melukis huruf. Belajar tergantung pada akibat yang ditimbulkannya. Ini berarti bahwa pelajaran  yang memberi kesan menyenangkan, menarik, mengurangi ketegangan, bermanfaat, atau memperkaya pengetahuan lebih efisien dan tersimpan atau memberi kesan yang lebih lama. Belajar sebagai suatu keutuhan yang dapat diukur tidak hanya tergantung pada proses bagaimana belajar itu terjadi, tetapi juga pada cara penilaiannya atau penggunaannya. Ini berarti bahwa apapun yang dianggap telah dipelajari oleh seseorang, ia hanya akan dapat menunjukkan penguasaannya atas sebagian dari yang telah dipelajari, dan ini tergantung pada macam pertanyaan atau situasi yang diciptakan untuk menunjukkan penguasaan tersebut.
K.    Penutup
Memori merupakan fenomena paling luar biasa di dunia ini. Otak dimodifikasi dan diatur oleh pengalaman-pengalaman kita.Interaksi kita dengan dunia fisik. Pengalaman panca indera, persepsi, dan tindakan kita, mengubah kita terus-menerus dan menentukan apa yang nantinya bisa untuk merasa, mengingat, mengerti, dan menjadi.
Setiap orang mungkin mempunyai miliaran potong informasi yang di simpan dalam memori jangka panjang, “penyimpanan memori” sebagai hasil dari pembelajaran dan tidak akan disadari kecuali anda memanggilnya. Ini juga mencakup semu : perbendaharaan kata dan pengetahuan bahasa, semua informasi yang telah dipelajari, pengalaman hidup pribadi, dan banyak lagi segala kemahiran yang telah dipelajari, dari mulai berjalan dan berbicara hingga prestasi musik dan atletik, banyak emosi yang dirasakan dan pada kenyataannya pengalaman yang berkelanjutan, serta sensasi yang terus-menerus, perasaan, dan pemahaman dunia yang disebut kesadaran. Tentu, tanpa memori tidak akan ada pikiran.
Upaya meningkatkan kemampuan ingatan
1.      Retrieval (pengulangan). Informasi yang sering di ulang-ulang akan semakin diingat. Untuk salah satu strategi meningkatkan kemampuan memori adalah mengulang-ulang kembali. Ini selaran dengan teori pembiasan.
2.      Informasi yang akan diigat harus mempunyai hubungan dengan hal lain. Konteks (peristiwa, tempat, nama, perasaan tertentu) memegang peranan penting.
3.      Mengorganisasi informasi sedemikian rupa sehingga dapat diingatkan kembali (jembatan kedelai -> andal = analisis dampak lingkungan.



DAFTAR PUSTAKA
Azhari Akyas, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Penerbit Teraju, 2004.
Hill Winfred, Theories Of Learning, Bandung: Nusa Media, 2009.
Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010.
Rakhmat Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Syah Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Rosdakarya, 2010.
Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Sabri M. Alisuf, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993.
Shaleh Abdul Rahman, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta: Prenada Media Group, 2014.
Thompson Richard dan Madigan Stephen, Memory The Key To Consciousness, Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka, 2007.



[1]Richard F. Thompson dan Stephen A. Madigan, Memory The Key To Cosciousness, (Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka, 2007), hlm. 01
[2] Winfred F. Hill, Theories Of Learning, (Bandung: Nusa Media, 2009), hlm. 283.
[3] Samsunuwiyati Mar’at, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 136.
[4] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hlm 63.
[5]Abdul Rahman Shaleh, Psikologi  Suatu Pengantar dalam Perspektif  Islam, (Jakarta: Prenada Media Group, 2004), hlm. 145.
[6]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 99.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar