A.
Pendahuluan
Manusia
memilki memori yang kemampuan dan kapasitas sangat besar, sehingga tak
terhitungkan besarnya. Akan tetapi tidak semua memanfaatkan kapasitas tersebut
seoptimal mungkin dan lebih banyak lagi yang memanfaatkan memori ini sekedarnya
saja, sehingga banyak ruang-ruang dalam memori seseorang yang tidak terisi
bahkan tidak diisi serta tidak diperlakukan dengan lebih baik karena berbagai faktor.
Ingatan merupakan alih bahasa dari memori. Maka dari itu
disamping ada yang menggunakan ingatan ada pula yang menggunakan istilah memori
sesuai dengan ucapan dari memori. Pada umumnya para ahli memandang ingatan
sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lalu. Proses manusia memunculkan
kembali tiap kejadian pengalaman pada masa lalunya, membutuhkan kemampuan
mengingat kembali yang baik. Dengan adanya kemampuan mengingat pada
manusia,maka ini menunjukan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan dan
menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya (M. Alisuf Sabri,
1993). Menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang pernah dialami, sama
halnya dengan memunculkan kembali sesuatu yang pernah terjadi dan tersimpan
dalam ingatan.
Memori
atau ingatan bukan merupakan suatu objek seperti mata, tangan dan organ tubuh
lainya. De Porter & Hernacki (Wirawan Sarwono Sarlito, 1976) menjelaskan bahwa memori atau ingatan adalah suatu kemampuan untuk
mengingat apa yang telah diketahui. Seseorang dapat mengingat sesuatu
pengalaman yang telah terjadi atau pengetahuan yang telah dipelajari pada masa
lalu. Kegiatan seseorang untuk memunculkan kembali atau mengingat kembali
pengetahuan yang dipelajarinya pada masa lalu dalam ilmu psikologi di sebut
recall memory.
Untuk
mengetahui bagaimana proses mengingat kembali itu terjadi maka perlu diketahui
bagaimana prosesnya manusia bisa menyimpan informasi dalam ingatanya. Memori
atau ingatan merupakan fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami lagi
pengalaman masa lalu. Proses ingatan ini diukur dengan pengingatan (recall),
reproduksi, pengenalan (recognition) dan belajar-ulang (relearning)
(Akyas Azhari, 2004).
B. Pengertian Memori Menurut Perspektif Psikologi
Menurut Bruno (1987), memori ialah proses mental yang
meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan
pengetahuan. Bagaimana hubungannya dengan belajar? Anda dapat mengetahui dari
contoh berikut ini.
Apabila siswa anda menerima pelajaran tentang Muhammad
yang diutus Allah sebagai Nabi akhir zaman, mula-mula informasi tentang Nabi
terakhir ini akan masuk ke dalam short term memory atau working
memory (memori jangka pendek) melalui indera mata atau telinga siswa
tersebut. Kemudian, informasi mengenai Rasul Allah itu diberi kode misalnya
dalam bentuk simbol-simbol huruf M-U-H-A-M-M-A-D. Setelah selesai proses
pengkodean (enconding), informasi itu masuk dan tersimpan di dalam long
term memory atau permanent memory yakni memori jangka panjang atau
permanen.
Memori
merupakan fenomena paling luar biasa di dunia ini.Otak dimodifikasi dan diatur
oleh pengalaman-pengalaman kita.Interaksi kita dengan dunia fisik. Pengalaman
panca indera, persepsi, dan tindakan kita, mengubah kita terus-menerus dan
menentukan apa yang nantinya bisa untuk merasa, mengingat, mengerti, dan
menjadi.[1]
Setiap
orang mungkin mempunyai miliaran potong informasi yang di simpan dalam memori
jangka panjang, “penyimpanan memori” sebagai hasil dari pembelajaran dan tidak
akan disadari kecuali anda memanggilnya. Ini juga mencakup semu :
perbendaharaan kata dan pengetahuan bahasa, semua informasi yang telah
dipelajari, pengalaman hidup pribadi, dan banyak lagi segala kemahiran yang
telah dipelajari, dari mulai berjalan dan berbicara hingga prestasi musik dan
atletik, banyak emosi yang dirasakan dan pada kenyataannya pengalaman yang
berkelanjutan, serta sensasi yang terus-menerus, perasaan, dan pemahaman dunia
yang disebut kesadaran. Tentu, tanpa memori tidak akan ada pikiran.
C.
Perkembangan Awal Memori
Perkembangan
memori pada otak manusia dari masa pembuahan hingga dewasa merupakan kisah yang
luar biasa.
Dari
pembuahan hingga kelahiran, pertumbuhan otak manusia menambah sel saraf baru
pada kecepatan yang luar biasa, 250.000 setiap menit!
Sebenarnya,
otak bayi yang baru lahir memiliki neuron lebih banyak dari pada usia
selanjutnya. Beberapa neuron mati ketika otak dibentuk dan “dipahat” oleh
pengalaman. Kita terbiasa untuk berfikir bahwa hanya itulah jumlah total neuron
yang dimiliki otak pada masa kelahiran. Beberapa akan mati, tetapi tidak ada
neuron baru yang dibentuk.
D.
Pendekatan Kognitif dalam Memori
Meskipun
pendekatan terhadap memori sejauh ini tidak berhubungan dengan aliran-aliran
teori pembelajaran terkemuka, hal itu tetap mirip dengan pendekatan
koneksionis. Respon-respon terhadap stimuli dipelajari dan berkopetisi satu
dengan lainnya; mereka juga mengalami ekstingsi dan kepulihan spontan. Sekalipun
demikian, ada pendekatan berbeda yang semakin popular akhir-akhir ini. Bukannya
berfokus pada respon-respon, pendekatan ini berfokus pada informasi yang
menyebabkan respon-respon itu menjadi muncul. Walaupun pada dasarnya berbeda
dari teori-teori kognitif yang telah kita bahas, pendekatan ini tetap bersifat
kognitif. Pendekatan ini mengakibatkan munculnya perubahan substansial dalam
hal pengkajian memori oleh para teoretisi.[2]
Dalam
pandangan koneksionis mengenai memori, apa yang diingat atau dilupakan adalah
respon, dan sebab utama mengapa respon-respon tertentu dilupakan adalah karena
adanya kompetisi dari respon lain terhadap stimuli yang sama. Sementara, muncul
sudut pandang lain yang popular hamper sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an.
Sudut pandang ini berasumsi bahwa unit-unit adalah item-item informasi dan
bahwa memori adalah persoalan menyimpan dan meraih kembali item-item tersebut.
Dalam pandangan kalangan koneksionis, analogi yang digunakan adalah panel-panel
sambungan telepon atau maze (lorong berliku) yang kita tempuh untuk
mencari jalan. Dalam pandangan baru ini, analogi yang digunakan adalah
perpustakaan tempat informasi di simpan. Item-item informasi ini merupakan unit-unit
kognitif, meski semua itu tetap bisa diukur dengan memunculkan sebuah respon.
Pendekatan ini mungkin tidak sekognitif peta-peta kognitif Tolman, namun paling
tidak segolongan dengan pengharapan (expectancies) S-S* dan R-S* Bolles.
E.
Tiga Penyimpanan Memori
Barangkali
versi paling terkenal dari pendekatan ini adalah yang dikemukakan oleh Richard
C. Atkinson (1. 1929) dan Richard M. Shiffrin (1. 1942), keduanya saat itu di
Universitas Stanford (Atkinson & Shiffrin 1968, 1971; Shiffrin &
Atkinson 1969). Mereka berpendapat bahwa memori terdiri atas tiga tempat atau wadah
penyimpanan (stores), yakni lokasi-lokasi tempat informasi bisa disimpan
untuk periode waktu tertentu. Kita tidak harus memahami konsep lokasi ini
secara harfiah.Jika informasi diterima melalui indera dan kemudian bisa
memunculkan perilaku pada waktu mendatang, informasi itu pasti telah tersimpan
dalam bentuk tertentu selama berlangsungnya interval. Ada tiga bentuk
penyimpanan, menurut ketentuan berapa lama berlangsungnya penyimpanan, bagaimana
informasi dipanggil kembali, dan mengapa informasi tidak bisa disimpan lagi. Perbedaan-perbedaan
ini tentu membuat kita membayangkan ada tiga tempat penyimpanan berbeda yang
berlokasi ditiga tempat yang berbeda, namun kita tidak perlu membayangkannya
seperti itu. Ketiga tempat penyimpanan itu adalah variable-variabel perantara,
dan penerimaan kita akan bergantung pada apakah kita menggunakannya untuk
memprediksi hokum memori, bukan bergantung pada dimana letak semua itu atau
pada apakah semua itu memang memiliki lokasi spesifik tertentu.
Yang
pertama dari ketiga wadah penyimpanan ini adalah register sensori (sensory
register).Ini mengandung pengertian bahwa semua informasi yang tiba melalui
indera diregistrasi atau dicatat dulu; itulah sebabnya dinamakan demikian. Akan
keliru bila kita mengatakannya dalam bentuk tunggal, karena dalam segi tertentu
register sensori jumlahnya ada sebanyak jumlah indera. Semua informasi yang
kita terima, entah itu melalui penglihatan, pendengaran, atau dengan cara
apapun, langsung masuk kedalam register sensori. Informasi itu tinggal disana
selama kurang dari satu detik (untuk penglihatan) atau sedikit lebih lama
(untuk pendengaran atau indera lainnya) dan kemudian hilang.Selain itu,
informasi itu tersimpan dalam bentuk persis seperti ketika diterima, seperti
pantulan bayangan di retina mata atau suara di telinga sebelah dalam.
Kita
bisa mendemonstrasikan penyimpanan informasi dalam bentuk asli yang amat
singkat ini dengan memperlihatkan kepada seseorang sebuah tampilan yang terdiri
atas 12 huruf selama seperduapuluh detik dan kemudian, begitu tampilan itu
dipadamkan, memberikan tanda agar ia menyebutkan barisan huruf yang diatas,
tengah, dan bawah. Rata-rata tiga dari empat orang menyebutkan dengan benar,
dan karena mereka tidak tahu barisan mana yang harus disebutkan ketika
tampilannya padam, kita bisa mengasumsikan bahwa bayangan dari tampilan
tersebut berlangsung cukup lama sehingga mereka bisa ‘membaca’ huruf-huruf
dalam tampilan itu (sperling 1960). (Bila mereka diminta membaca semua 12 huruf
itu, mereka bisa menyebutkan dengan benar hanya empat atau lima huruf di
antaranya, menandakan bahwa bayangan tersebut berlangsung amat singkat). Dengan
demikian register sensori mirip dengan sebuah gambar ditelevisi: gambar
itu memuat banyak informasi namun berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
Register
sensori menyimpan informasi dalam waktu
yang amat singkat sehingga tidak menarik bagi para pengkaji pembelajaran.
Tempat penyimpanan kedua menyimpan informasi dalam waktu yang lebih lama, dan
tidak selalu dalam bentuk aslinya. Ini disebut penyimpanan jangka pendek
(short term store), atau memori jangka pendek (short term memory)
atau memori kerja (working memory). Contoh paling umum dari informasi
yang tersimpan dalam wadah jangka pendek adalah nomor telepon yang baru kita
temukan dibuku telepon lalu sengaja kita ingat sebentar untuk kita
telepon.Informasi seperti itu tidak diingat secara permanen; dalam
kenyataannya, informasi itu seringkali terlupakan dalam hitungan detik. Tetapi,
dibandingkan dengan register sensori, hal itu tersimpan cukup lama sehingga
bisa digunakan secara cukup kompleks. Bila contoh menelpon dengan nomor-nomor
tertentu terdengar kurang kompleks, bayangkanlah operasi yang disimpan
seseorang ketika ia sedang mengerjakan soal aritmetika. Misalnya, anda mungkin
mengingat sebuah angka cukup lama agar bisa mengalikannya dengan angka lain,
namun ketika telah mendapatkan hasil perkaliannya, anda mulai
melupakannya.Contoh ini membantu menunjukkan mengapa penyimpanan jangka pendek
juga disebut sebagai memori kerja.
Hanya
sejumlah item tertentu saja yang bisa disimpan dalam waktu tertentu dalam
penyimpanan jangka-pendek atau memori kerja ini. Begitu item-item tambahan
didatangkan, sebagian dari yang sudah ada disana harus pergi. Ini berarti bahwa
item-item bisa disimpan dalam memori jangka-pendek tanpa batas sepanjang
seseorang berkonsentrasi pada item-item itu. Jika karena sebab tertentu anda
harus membuka-buka nomor telepon di satu tempat kemudian perlu waktu untuk bisa
sampai ke lokasi pesawat telepon tanpa mencatat nomor itu, anda masih tetap
bisa mengingatnya. Namun demikian, jika untuk sampai ke pesawat telepon anda
dituntut untuk mengingat informasi baru yang lain atau membuat
hitungan-hitungan tertentu, penggunaan lain atas memori kerja ini bisa
mengambil alih ruang yang terbatas dan membuat anda lupa dengan nomor yang
hendak anda pencet. Interferensi antara materi lama dan baru ini mungkin mirip
sekali dengan interferensi retroaktif, namun interpretasinya agak berbeda. Di
sini interferensinya bukan antara dua respon terhadap stimulus yang sama, yang
salah satunya akan dijaga atau diretensi untuk periode yang lama, melainkan
antara dua item, salah satunya akan diretensi dalam memori kerja ketika tidak
ada ruang yang memadai untuk keduanya.
Kapasitas
penyimpanan jangka pendek adalah sekitar tujuh item. Kapasitas ini tetap sama
terlepas dari jenis item yang akan diingat, sepanjang item-item itu cukup
familiar untuk bisa berfungsi sebagai unit-unit. Jadi, rangkaian huruf-huruf
c-a-t, karena merupakan kata yang familiar, akan menjadi satu unit, dan kita
bisa menyimpan sekitar tujuh buah unit demikian dalam memori kerja pada waktu
yang sama. Sekalipun begitu, rangkaian huruf tadi yang disusun menjadi t-c-a
mungkin hanya menjadi rangkaian tanpa arti dari tiga huruf dan dengan demikian
tampil sebagai tiga buah unit dalam memori kerja. Kapasitas penyimpanan jangka
pendek tidak selalu persis tujuh unit, namun jarang kurang dari lima atau lebih
dari Sembilan. Kapasitas ini, yang konsisten pada berbagai individu dan
berbagai jenis item, memanifestasikan apa yang oleh George Miller (1956) (bukan
Neal Miller) disebut sebagai ‘angka tujuh yang ajaib, ditambah atau dikurangi
dua’.
Meski
pengulangan (rehearsal) merupakan cara yang bagus untuk mempertahankan
agar suatu item tetap berada dalam memori kerja, hal itu tidak selalu
diperlukan. Item-item tersingkir dari wadah penyimpanan jangka-pendek bukan
hanya karena hal itu tidak diulangi; mereka tersingkir karena digantikan oleh
item-item lain. Seandainya anda membaca serangkaian pendek huruf-huruf dan
beberapa detik sesudahnya diuji untuk mengetahui sejauh mana anda mengingatnya.
Jika anda menghabiskan waktu interval beberapa detik itu untuk mengerjakan
aritmetika dalam pikiran anda, anda akan cenderung melupakan huruf-huruf itu,
karena aritmetika menuntut penggunaan memori kerja untuk angka-angka, yang
mendesak keluar huruf-huruf. Sebaliknya,
jika anda menghabiskan waktu untuk mengamati secara teliti sebuah lampu yang
menyala redup, anda akan mengingat huruf-huruf itu dengan lebih baik, meskipun
anda tidak sempat mengulanginya. Tidak ada hal lain yang membuat huruf-huruf
itu terdesak keluar dari wadah penyimpanan jangka pendek, sehingga semua itu
tetap teringat.
Akhirnya,
penyimpanan jangka panjang (long term store) terkait erat dengan apa
yang telah kita bahas di dua bagian awal sebelumnya, meski secara mendasar
tetap berbeda. Sementara pada bagian sebelumnya kita bertanya bagaimana cara
kita mengingat respon-respon dan apa yang menentukan retensinya, sekarang kita bertanya
bagaimana cara item-item itu masuk kedalam wadah penyimpanan jangka-panjang dan
bagaimana semua itu nantinya bisa dipanggil kembali dari wadah itu. Meski tidak
bisa dipastikan, asumsinya adalah bahwa penyimpanan jangka-panjang memiliki
kapasitas tidak terbatas dan tidak ada hal yang hilang darinya.Bila kita
melupakan sesuatu yang pernah ada didalam wadah jangka panjang, sebabnya adalah
karena kita tidak bisa menemukannya lagi, namun hal itu masih ada disana,
tersedia untuk ditemukan jika kita tidak memilih strategi pencarian yang tepat
untuk memanggilnya kembali.
Meskipun
penyimpanan jangka-panjang terkait dengan apa yang dianalisis Underwood,
hakikat analisisnya agak berbeda. Kita bisa membayangkan penyimpanan
jangka-panjang sebagai semacam sistem pemberkasan (filing system) dalam
sebuah perpustakaan, dimana sejumlah besar informasi disimpan secara permanen
untuk digunakan bila diperlukan. Masing-masing sistem informasi diberkas
menurut label pokoknya dan bisa ditemukan kembali kapan saja ada kebutuhan atas
nomor pokok ini. Label pokok ini bisa dibuat menurut sebagai ketentuan: menurut
topic (misalnya, segala hal yang ku alami pada musim dingin tahun 1987-1988),
atau menurut tempat (misalnya, lokasi gedung-gedung public utama di
Philadelphia), atau sejumlah kemungkinan lainnya. Sebagian sistem informasi
memiliki banyak label tersebut dan seringkali dipanggil kembali dalam
penyimpanan jangka panjang, sementara yang lainnya memiliki label yang sedikit
menjelang dipanggil kembali. Karenanya suatu sistem yang nampaknya terlupakan
sama sekali masih tetap bisa ditemukan jika kita menggunakan label pencarian
yang benar. Ketika sebuah sistem dipanggil kembali dari penyimpanan jangka
panjang, sistem tersebut masuk kedalam penyimpanan jangka-pendek, yang sekali lagi
menjadi sebab mengapa yang tersebut terakhir ini juga disebut sebagai memori
kerja.Terkait dengan sistem lainnya, sistem panggilan itu tinggal dalam
penyimpanan jangka-pendek selama periode tertentu dan kemudian terdesak oleh
sistem lainnya. Akan tetapi, ketika hal itu terjadi, sistem panggilan tidak
hilang, melainkan kembali ke (atau tinggal di) tempat penyimpanan
jangka-panjang. Atkinson dan Shiffrin mengajukan ibarat sebuah mesin fotocopy:
ketika sebuah sistem berada dalam tempat penyimpanan jangka-panjang, bila
diperlukan maka fotocopyan sistem itu ditempatkan dalam tempat penyimpanan
jangka pendek, digunakan disini, dan kemudian dibuang ketika ada item baru yang
akan menempatinya, sementara item aslinya tetap tidak berubah dalam tempat
penyimpanan jangka-panjang.
Hubungan
antara penyimpanan jangka-panjang dan jangka-pendek bisa dilihat dari apa yang
terjadi ketika kita mendengar rangkaian panjang kata-kata atau item-item lain
dan kemudian mencoba mengingat semuanya secara urut-uji retensi ini dikenal
dengan istilah mengingat bebas (free recall). Kita umumnya lebih
mengingat item-item yang ada dibagian awal dan dibagian akhir, bukan yang
ditengah. Adanya retensi yang lebih baik pada bagian awal ini disebut efek
primasi (primacy effect), sementara retensi yang lebih baik pada bagian
akhir disebut efek resensi (recency effect).Mengepa kedua hal itu
terjadi? Kita bisa memperoleh jawabannya melalui eksperimen yang agak berbeda:
setelah daftar tersebut ditampilkan, tunggu dulu selama beberapa detik sebelum mencoba
mengingatnya, sambil menyibukkan diri dengan tugas lain sehingga tidak ada
kesempatan untuk mengulangi daftarnya lagi. Jika hal ini kita lakukan, efek
resensinya lenyap, namun efek primasinya masih bisa didapati. Itulah sebabnya
mengapa item-item yang ada di akhir daftar bisa teringat lebih baik bila
ujiannya langsung dilaksanakan karena item-item tersebut masih tinggal dalam
penyimpanan jangka-pendek. Bila ujiannya ditinggal, item-item itu telah hilang
dari penyimpanan jangka-pendek, sehingga ingatan kita tentang bagian akhir dari
daftar tersebut tidak lebih baik dari bagian tengahnya.
Bagaimanapun,
efek primasi jelas terjadi karena adanya faktor lain juga, karena lebih banyak
item dari bagian awal daftar yang masuk kedalam penyimpanan jangka-panjang,
sehingga mereka tidak hilang selama berlangsung interval antara pembacaan
daftar dan ujian. Barangkali penyebabnya adalah karena mereka dikaji lebih
teliti dari pada item-item terakhir, atau karena mereka sempat mengalami
pengulangan selama daftar ditampilkan. Apapun sebabnya, bahwa efek-efek primasi
dan resensi terjadi karena factor yang berbeda. Efek primasi mencerminkan
jumlah item yang masuk ke dalam penyimpanan jangka-panjang, sementara efek
resensi disebabkan oleh kesegaran atau kebaruan (recency) nya, dimana
efek tersebut berlangsung hanya bila item-item yang ada diakhir daftar tinggal
didalam penyimpanan jangka-pendek.
Jika
memang tidak ada hal yang hilang dari penyimpanan jangka-panjang, mengapa
biasanya kita kesulitan untuk menemukan kembali item-item yang telah lama
tinggal dalam penyimpanan jangka-panjang? Jawabannya adalah karena item-item
yang lebih lama akan memiliki lebih banyak lagi item-item serupa sehingga bisa
terkacaukan dengan mereka; dan lebih sulit menemukan item mana yang benar diantara
item yang keliru. Sekali lagi, ini terdengar amat mirip dengan interferensi
proaktif dan retroaktif. Kendatipun demikian, cara berfikir mengenai proses
tersebut tetap agak berbeda. Interferensi tidak terkait dengan masalah
kompetisi antar respon yang menghasilkan ekstingsi atau kepulihan spontan,
melainkan lebih merupakan masalah kekacauan terorganisir di mana kita akan
semakin sulit menemukan apa yang kita inginkan keika ada lebih banyak item yang
harus dicari. Faktor terpentingnya bukan umur memori itu sendiri; yang menjadi
soal adalah apakah cara pelabelannya sesuai dengan sarana pencarian yang tengah
kita gunakan. Dengan demikian pendekatan ini tidak menekankan apa yang terjadi
pada item-item setelah dipelajari melainkan lebih menekankan cara yang kita
gunakan untuk menelusurinya. Dengan demikian memori yang bagus bergantung pada
hubungan antara cara pelabelan item-item ketika mereka masuk kedalam
penyimpanan jangka-panjang dan cara penelusuran mereka ketika tiba saatnya
untuk memanggil mereka kembali.
Lalu,
bagaimana caranya item-item memasuki penyimpanan jangka-panjang? Jawaban dasarnya
adalah dengan pengulangan. Semakin sering sebuah item diulangi dalam
penyimpanan jangka-pendek, semakin besar kemungkinan item itu berpindah kedalam
penyimpanan jangka-panjang. Sekalipun begitu, yang diulangi dan yang barangkali
disimpan, adalah versi tertentu dari item itu-maksudnya, item itu setelah
dikodekan (encoded) dengan cara tertentu. Pengkodean (encoding)
menjadi penentu utama apakah sebuah item akan tersimpan dalam bentuk tertentu
yang nantinya bisa ditemukan kembali; sejumlah psikolog telah menkaji hal ini
lebih dalam dari pada teori Atkinson dan Shiffrin.
F.
Jenis-jenis memori
Kita tidak
menyadari pekerjaan memori pada dua tahap yang pertama. Kita hanya mengetahui
memori pada tahap ketiga : pemanggilan kembali. Pemanggilan dapat diketahui
dengan empat cara :
1. Pengingatan
(recall).
Pengingatan adalah proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi
secara verbatim ( kata demi kata), tanpa petunjuk yang jelas.
2. Pengenalan
(Recognition).
Agak sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta, lebih mudah mengenalnya
kembali.
3. Belajar
lagi (Relearninng).
Menguasai kembali pelajaran yang sudah pernah kita peroleh termasuk pekerjaan
memori.
4. Redintegrasi
(Redintegration).
Redintegrasi adalah merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori
kecil.
G.
Macam-Macam Memori
Memori
ada 2 macam:
1.
Memori
jangka pendek
Memori, jangka pendek, yakni memori atau ingatan yang berada dalam
jangka waktu tertentu.Penyimpanan pada ingatan jangka pendek mempunyai
kapasitas yang terbatas, sehingga dapat dengan mudah tergantikan oleh informasi
yang lebih baru. Kapasitas penyimpanannya kurang lebih sebanyak antara 7 s.d.
12 butir atau chunk (kelompok unit) informasi. Apabila batas ini sudah
penuh, maka informasi baru yang datang kemudian akan mengalihkan butir yang
sudah ada. Butir-butir yang belum dialihkan dapat diingat
kembali melalui suatu proses yang menguji setiap butir secara bergantian.
2.
Memori
jangka panjang
Memori jangka panjang, yaitu memori yang
berada dalam jangka waktu yang lebih lama. Kelemahan ingatan sering terjadi
pada ingatan jangka panjang ini dan biasanya terjadi karena kegagalan
pengingatan kembali. Sedangkan proses ingatan jangka panjang dimulai ketika chungking
atau pengelompokan informasi menjadi unit-unit, lalu informasi itu dikonding
ulang (recode) menjadi unit-unit yang besar dan bermakna sehingga
informasi itu disimpan dalam ingatan jangka pendek untuk kemudian diolah dan
disusun maknanya menjadi informasi ada dalam ingatan jangka panjang. Makin banyak
seseorang merinci makna sebuah informasi, maka makin banyak ingatan yang ia miliki.[3]
H.
Mekanisme Memori
Sudah lama orang ingin mengetahui bagaimana cara kerja memori.
Secara praktis, orang ingin mencari cara-cara untuk mengefektifkan pekerjaan
memori. Bukankah bila memori kita handal, kita dapat menggunakannya sebagai arsip
yang murah , praktis, efisien, dan portabel (mudah dibawa)? Tetapi memori kita
sering tidak berfungsi dengan baik yaitu salah satunya kita sering lupa. Untuk
mengetahui pekerjaan memori, kita harus menjawab mengapa orang bisa lupa,
jawabannya mengapa orang bisa ingat. Ada tiga teori yang menjelaskan tentang
memori: teori aus, teori interferensi, dan teori pengolahan
informasi.[4]
Teori Aus (Disuse Theory)
Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Seperti
otot, memori kita baru kuat, bila dilatih terus-menerus. Sejak zaman yunani
sampai sekarang, masih ada anggapan bahwa tugas guru adalah melatih ingatan
muridnya. Selama sekolah orang hanya belajar mengingat. Lagi pula, tidak selalu
waktu yang mengauskan memori. Sering terjadi, kita masih ingat pada peristiwa
puluhan tahun yang lalu, tetapi lupa kejadian seminggu yang lewat.
Teori interferensi (Interference
Theory)
Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas.
Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin atau kanvas itu. Katakanlah, pada
kanvas itu sudah terlukis hukum relativitas. Segara setelah itu, anda mencoba
merekam hukum medan gabungan. Yang kedua akan menyebabkan terhapusnya rekaman
yang pertama atau mengaburkannya. Ini disebut interferensi.
Teori Pengolahan Informasi (Information
Theory)
Secara singkat, teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula
disimpan pada sensory storge (gudang inderwi), kemudian masuk short-term
memory (STM, memori jangka pendek) lalu dilupakan atau dikoding untuk
dimasukkan ke dalam long-term memory (LTM, memori jangka panjang). Otak
manusia dianalogikan dengan komputer.
I.
Upaya meningkatkan kemampuan ingatan
1.
Retrieval (pengulangan). Informasi yang sering di ulang-ulang akan semakin
diingat. Untuk salah satu strategi meningkatkan kemampuan memori adalah
mengulang-ulang kembali. Ini selaran dengan teori pembiasan.
2.
Informasi
yang akan diigat harus mempunyai hubungan dengan hal lain. Konteks (peristiwa,
tempat, nama, perasaan tertentu) memegang peranan penting.
3.
Mengorganisasi
informasi sedemikian rupa sehingga dapat diingatkan kembali (jembatan kedelai
-> andal = analisis dampak lingkungan.[5]
J. Hubungan
Memori dan Belajar
Para ahli sepakat bahwa terdapat hubungan
yang erat antara memori dan belajar (Syah dalam Khadijah, N (2009)).
Seperti telah dikemukakan bahwa memori sesungguhnya adalah fungsi mental yang
bekerja menangkap informasi dari stimulus, menyimpannya, dan mengungkapkannya
kembali bila diperlukan. Sedang proses belajar yang kita ketahui adalah sebuah
proses yang melibatkan pengolahan dan penyimpanan informasi, dan hasil belajar
bias diketahui melalui proses pengungkapan kembali apa yang telah diketahui
oleh siswa. Dengan demikian, dalam belajar dibutuhkan pemanfaatan
kemampuan memori oleh siswa guna menyerap informasi yang diterima,
menyimpannya, dan memunculkannya kembali saat menjawab soal ulangan atau ujian.
Hubungan antara memori dan belajar
dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Ketika siswa mempelajari tentang
kandungan surat Al-An’Am ayat 162-163 tentang keikhlasan dalam hidup, mula-mula
informasi tersebut masuk ke dalam sistem memori terdepan siswa, yaitu sensori
register. Bila siswa menaruh perhatian pada apa yang ia pelajari, maka informasi
tersebut akan diteruskan ke short term memory. Selanjutnya jika
informasi tersebut diulang-ulang di rumah maka informasi akan masuk ke long
term memory. Suatu saat kemudian, ketika ulangan atau ujian, atau anda
menanyakannya pada siswa, maka informasi tersebut akan dimunculkan
kembali. Proses menyimpan informasi dalam memori yang biasa disebut dengan
menghafal ini merupakan salah satu proses yang ditempuh oleh siswa ketika
belajar. Dengan demikian memori merupakan salah satu fungsi yang digunakan ketika
seseorang belajar (Khadijah, N (2009).
3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
Artinya: "Adakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran. (Q.S Al-Zumar: 9).[6]
Menurut Slameto
(2010) dalam bukunya belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang
berarti lebih mudah terjadi dan lebih lama diingat dibandingkan dengan belajar
yang tampaknya tidak ada artinya. Menghafal deretan huruf-huruf yang tidak ada hubungan arti
adalah sangat sulit dan lama. Untuk memudahkannya guru perlu membubuhkan suatu
arti sehingga mudah di hafal. Belajar menghubungkan atau merangkaikan dua objek
atau peristiwa menjadi lebih mudah apabila kedua objek atau peristiwa itu
terjadi atau dijumpai dalam urutan yang berdekatan, baik ditinjau dari segi
waktu maupun ruang. Dalam pelajaran, pengertian keadilan diajarkan berurutan
dengan pengertian ketidakadilan; bentuk rumah khas Minangkabau ditunjukkan
bersamaan dengan bentuk rumah Joglo Jawa. Siswa yang sudah berhasil mengingat
objek yang satu akan mudah ingat objek lainnya. Belajar dipengaruhi oleh
frekuensi perjumpaan dengan rangsangan dan tanggapan yang sama atau serupa yang
dibuat. Dalam pelajaran, siswa menjadi makin baik pengusaannya jika kepada
mereka diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengulang dan berlatih. Mengulang-ulang
sangat cocok untuk belajar keterampilan psikomotor, seperti bermain piano,
mengetik, melukis huruf. Belajar tergantung pada akibat yang ditimbulkannya.
Ini berarti bahwa pelajaran yang memberi kesan menyenangkan, menarik,
mengurangi ketegangan, bermanfaat, atau memperkaya pengetahuan lebih efisien
dan tersimpan atau memberi kesan yang lebih lama. Belajar sebagai suatu
keutuhan yang dapat diukur tidak hanya tergantung pada proses bagaimana belajar
itu terjadi, tetapi juga pada cara penilaiannya atau penggunaannya. Ini berarti
bahwa apapun yang dianggap telah dipelajari oleh seseorang, ia hanya akan dapat
menunjukkan penguasaannya atas sebagian dari yang telah dipelajari, dan ini
tergantung pada macam pertanyaan atau situasi yang diciptakan untuk menunjukkan
penguasaan tersebut.
K.
Penutup
Memori
merupakan fenomena paling luar biasa di dunia ini. Otak dimodifikasi dan diatur
oleh pengalaman-pengalaman kita.Interaksi kita dengan dunia fisik. Pengalaman
panca indera, persepsi, dan tindakan kita, mengubah kita terus-menerus dan
menentukan apa yang nantinya bisa untuk merasa, mengingat, mengerti, dan
menjadi.
Setiap
orang mungkin mempunyai miliaran potong informasi yang di simpan dalam memori
jangka panjang, “penyimpanan memori” sebagai hasil dari pembelajaran dan tidak
akan disadari kecuali anda memanggilnya. Ini juga mencakup semu : perbendaharaan
kata dan pengetahuan bahasa, semua informasi yang telah dipelajari, pengalaman
hidup pribadi, dan banyak lagi segala kemahiran yang telah dipelajari, dari
mulai berjalan dan berbicara hingga prestasi musik dan atletik, banyak emosi
yang dirasakan dan pada kenyataannya pengalaman yang berkelanjutan, serta
sensasi yang terus-menerus, perasaan, dan pemahaman dunia yang disebut
kesadaran. Tentu, tanpa memori tidak akan ada pikiran.
Upaya meningkatkan kemampuan ingatan
1.
Retrieval
(pengulangan). Informasi yang sering di ulang-ulang akan semakin diingat. Untuk
salah satu strategi meningkatkan kemampuan memori adalah mengulang-ulang
kembali. Ini selaran dengan teori pembiasan.
2.
Informasi
yang akan diigat harus mempunyai hubungan dengan hal lain. Konteks (peristiwa,
tempat, nama, perasaan tertentu) memegang peranan penting.
3.
Mengorganisasi
informasi sedemikian rupa sehingga dapat diingatkan kembali (jembatan kedelai
-> andal = analisis dampak lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Azhari
Akyas, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Penerbit Teraju, 2004.
Hill Winfred, Theories Of
Learning, Bandung: Nusa Media, 2009.
Rakhmat Jalaluddin, Psikologi
Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Syah Muhibbin, Psikologi
Pendidikan, Bandung: PT. Rosdakarya, 2010.
Sarlito
Wirawan Sarwono,
Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Sabri M. Alisuf, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan,
Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993.
Shaleh
Abdul Rahman, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta:
Prenada Media Group, 2014.
Thompson
Richard dan Madigan Stephen, Memory The Key To Consciousness, Jakarta:
PT. AgroMedia Pustaka, 2007.
[1]Richard F.
Thompson dan Stephen A. Madigan, Memory The Key To Cosciousness,
(Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka, 2007), hlm. 01
[2] Winfred F.
Hill, Theories Of Learning, (Bandung: Nusa Media, 2009), hlm. 283.
[3] Samsunuwiyati
Mar’at, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012),
hlm. 136.
[4] Jalaluddin
Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012),
hlm 63.
[5]Abdul Rahman
Shaleh, Psikologi Suatu Pengantar
dalam Perspektif Islam, (Jakarta:
Prenada Media Group, 2004), hlm. 145.